Pemuda Kreatif Pangan Sejahtera

Pemuda adalah kelompok masyarakat belia yang memiliki energi tinggi, penuh kreativitas, dan berpola pikir bebas merdeka. Energi tinggi pemuda ditunjukkan dengan vitalitas tubuh yang baik, jauh dari penyakit, dan berdaya tahan tinggi. Kreativitas tinggi pemuda bukanlah hal yang patut dipertanyakan lagi. Inovasi dan renovasi cipta sering muncul dari otak-otak brilian penuh imajinasi dari pemuda. Kebebasan berfikir pemuda melahirkan bahan bakar bagi ide segar yang jauh berbeda dari arti konvensional para dewasa dan kaum tua. Segala kelebihan pemuda yang ditunjang dengan adanya pendidikan yang baik, pemuda dapat dijadikan ujung tombak bagi pembangunan bangsa.

Salah satu aspek penting dalam kelanjutan pembangunan bangsa adalah pada sektor kesejahteraan. Faktor utama pendukung kesejahteraan adalah ketika masyarakat memiliki energi yang cukup untuk menjalankan perannya masing-masing. Energi, yang dalam istilah biologi disebut sebagai Adenosin Tri Phosphate-ATP, bersumber dari bahan pangan yang dikonsumsi. Semakin baik kualitas bahan pangan yang dikonsumsi, semakin banyak energi positif yang muncul dan melahirkan tubuh-tubuh masyarakat yang siap berperan dalam pembangunan bangsa.

Pemuda bisa menjalankan fungsinya sebagai ujung tombak pembangunan bangsa dengan berusaha untuk mendukung ketersediaan pangan di Indonesia. Usaha yang dapat dilakukan para pemuda adalah membuat, saya sebut, program pemuda kreatif pangan sejahtera. Program ini terutama melibatkan pemerintah, pemuda, dan warga masyarakat sekitar.

Hal yang pertama adalah pemerintah (daerah) membuat edukasi kepada para pemuda pada suatu daerah yang potensial. Dalam hal ini, pemerintah daerah mengadakan edukasi dengan mengenalkan potensi pangan hortikultura yang dapat dikembangkan dalam daerah tersebut. Selain itu, pemerintah berperan sebagai pemberi modal dan bersedia menjadi mitra bagi kelancaran pengembangan potensi tersebut. Pemerintah daerah, siapapun yang memimpin dan kapanpun periodenya, wajib hukumnya untuk mensukseskan gerakan ini. Hal ini dikarenakan program yang akan dijalankan tidak akan berhasil seketika dalam hitungan bulan.

Edukasi yang dilakukan berfokus pada pengenalan berbagai jenis tanaman hortikultura seperti buah dan sayur yang dapat dibudidayakan pada daerah tersebut serta bagaimana pengolahan pasca panennya. Pengetahuan jenis yang cocok harus diimbangi dengan edukasi mengenai pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit (sebaiknya dengan cara biologis), dan bagaimana sirkulasi hilirnya. Budidaya hortikultura akan lebih baik jika dilakukan dengan cara-cara terbaru untuk menyiasati ketersediaan lahan dengan cara hidroponik dan sejenisnya. Hidroponik, dalam rumah kaca, lebih menguntungkan dari segi pengendalian hama dan penyakit karena mudahnya ‘penghalauan’ bibit penyakit yang mungkin masuk. Perawatan serta pemupukan pada budidaya hidroponik lebih mudah dibanding pertanian konvensional. Dari aspek psikologis, pemuda lebih tertarik kepada hal-hal yang baru dan modern seperti hidroponik. Hasil budidaya hidroponik, selain dijual dalam bentuk segar, juga dapat dijadikan olahan berbagai jenis bahan pangan. Dari sinilah peran pemerintah daerah menjadi penting sebagai agen pendukung sirkulasi dan edukasi pengolahan hasil panennya.

Ketika pemuda memiliki pekerjaan mulia sebagai pensuplai energi (pangan) pada suatu daerah, akan lebih baik lagi jika mereka dapat berperan sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah dalam hal edukasi kepada masyarakat mengenai mutu makanan yang baik. Pemuda dapat menginformasikan secara sederhana atau dalam suatu pertemuan mengenai jenis-jenis makanan yang baik, bagaimana membaca kemasan bahan pangan awetan, penyimpanan bahan pangan, dan lain sebagainya. Pemuda merupakan kelompok yang vokal dan penuh semangat sehingga mudah untuk diajak “berkoar” menyuarakan pengetahuannya kepada masyarakat.

Dalam menyuarakan pengetahuan pangan, dapat pula dilakukan melalui industry kreatif yang ditangani pemuda. Pada daerah tersebut pemuda diberi kesempatan untuk belajar desain grafis dan membuat usaha sablon atau konveksi. Otak dan tangan kreatif pemuda akan bekerja membuat kaos yang bertema tentang pangan, menggunakannya, serta mendistribusikannya. Pemuda akan bangga dengan buatannya sendiri sekalikgus mengkampanyekan pengetahuan pangan terhadap sesama dan masyarakat.

Pemuda sebagai pekerja daerah akan memiliki tenaga yang tinggi dan kreativitas yang mendukung. Pemuda menjadi bersemangat dengan adanya kegiatan di ‘kampungnya’ yang menghasilkan uang. Dengan arahan yang tepat, pemuda dapat menjadi penggerak perekonomian suatu daerah sekaligus menjaga daerah tersebut dari ancaman kekurangan bahan pangan. Dampak yang lainnya adalah mengurangi tingkat urbanisasi yang semakin tahun semakin meningkat.

Bayangkan, suatu daerah dengan tigkat kecukupan pangan buah dan sayur tinggi serta pemuda-pemuda terlatih mengenakan pakaian ‘propokatif positif’ berjalan dengan wajah tersenyumnya. Tidak mudah, tapi bisa dilakukan. Singkat kata, pemuda kreatif pangan adalah pemuda penggerak ketersediaan pangan suatu daerah dengan kreatifitas hortikultura menuju sejahtera. Dengan ‘wibawa’-nya pemuda, mereka dapat menggerakkan pengetahuan masyarakat mengenai bahan pangan. Semuanya berhulu dari pengembangan pemuda sebagai tiang pancang dan pemerintah sebagai batu pertama sekaligus batu batanya.

Mafrikhul Muttaqin