almamater

Puisi di atas dibuat pada tahun 1963 oleh Taufiq Ismail, seorang mahasiswa awal-awal Institut Pertanian Bogor (IPB). Iapun tak menyangka bahwa ia akan membacakannya kembali pada 50 tahun setelah itu, 2013. Bertepatan dengan Reuni Emas 50 tahun IPB, ia membacakannya kembali di depan ribuan alumnus IPB yang memadati Jakarta Convention Centre sabtu malam (5/10). Iapun mengungkapkan rasa bangganya dapat membacakan puisi itu kembali. Iapun mengingatkan janganlah berbangga atas almamater, karena berbangga dekat dengan kesombongan. Berbanggalah dengan bersyukur memuji Alloh SWT, lanjutnya. Sambil berkelakar iapun mengatakan bahwa sepertinya tidak mungkin ia akan membacakannya kembali pada perayaan 100 tahun IPB.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga membacakan puisi dan bercerita tentang rekan mahasiswanya yang menghilang 15 tahun. Ia menghilang saat melaksanakan praktik lapang dan tidak kembali ke kampus. Ia menghabiskan 15 tahun di pulau Seram ‘hanya’ untuk mengajarkan petani lokal cara bertani yang baik. Tanpa gaji dan publikasi ia bekerja tanpa henti. Sampai akhirnya ia dipanggil kembali oleh IPB untuk menyelesaikan gelar insinyurnya. Tanpa¬† setelan yang layak, ia ‘terpaksa’ datang ke Bogor untuk ujian. Kisah nyata yg susah dilakukan kembali oleh generasi sekarang ini dapat dilihat di sini.