Banyak yang menyebutkan bahwa tahun pertama di Institut Pertanian Bogor (IPB) merupakan masa SMA kelas 4. Hal ini disebabkan karena mahasiswa tahun pertama, yang disebut Tingkat Persiapan Bersama (TPB), memperoleh beberapa mata kuliah yang umum seperti Biologi, Fisika, dan Matematika. Saat ini, kurikulum TPB sudah berubah menyesuaikan kebutuhan dan hasil evaluasi yang telah dilakukan. Di tahun pertama ini, mahasiswa memperoleh berbagai praktikum untuk mata kuliah dasar seperti Biologi.

Dalam suatu praktikum Biologi Dasar di suatu semester tahun 2010, telah dilakukan penelitian kecil mengenai deskripsi salah satu hewan vertebrata endemik Indonesia pada praktikan. Dari hasil penelitian kecil tersebut, hewan-hewan dari afrika banyak disebutkan sebagai sebagai hewan endemik Indonesia. Salah satu  hewan yang banyak disebut adalah singa. Komodo dan berbagai jenis burung khas Indonesia juga disebutkan sebagai hewan endemik Indonesia.

Dapat dikatakan, walaupun tidak menggunakan data statistik, para praktikan belum, atau lupa, mengenal hewan endemik Indonesia. Mungkin mereka yang kurang tahu atau memang menganggap hewan tersebut ada di Indonesia. Ketidaktahuan ini diduga sebagai dampak dari maraknya tayangan dokumenter yang rata-rata menggunakan actor utama hewan asal Afrika. Selain itu, kecintaan terhadap Cinta Fitri dan sinetron lain diduga menyebabkan ketidaktahuan praktikan terhadap kondisi hewan di Indonesia.

Hewan populer seperti komodo memang sudah sering disebut dalam berbagai media sebagai salah satu hewan endemik di Indonesia. Dalam berbagai media pengajaran, komodo sering disebutkan sebagai  khas Indonesia. Desain mata uang koin Indonesia juga pernah menggunakan desain bergambar komodo. Tentunya, yang paling fenomenal adalah pengenalan komodo dalam sebuah drama boneka anak-anak Si Komo karya Kak Seto. Sekedar informasi, sesungguhnya Kak Seto sudah sangat layak dipangggil Pak Seto.

Hal yang mengejutkan adalah ketika banyak jenis burung khas Indonesia disebutkan sebagai hewan endemik Indonesia oleh praktikan. Kebanyakan jenis burung yang disebut adalah burung khas Indonesia tengah atau timur. Diduga, keindahan burung endemik yang digambarkan dalam berbagai media pengajaran membuat mereka lebih mengingatnya dibandingkan mengingat Anoa.

Berdasarkan hasil di atas dapat diketahui bahwa masyarakat, dalam hal ini mahasiswa praktikan di atas, telah mengenal berbagai jenis  endemik melalui media pengajaran dan tayangan di televisi. Sebenarnya, sudah banyak materi mengenai hewan endemik di Indonesia khususnya pada pelajaran IPA dan IPS. Bisa jadi, materi tersebut ‘dilupakan’ oleh mahasiswa praktikan.

Khusus mengenai tayangan televisi, saat ini sudah banyak program pengenalan hewan terutama dari stasiun televisi TransTV. Hal yang patut diwaspadai adalah berkembangnya berbagai media video edukasi hewan untuk balita yang kebanyakan menggunakan sumber dari luar negeri. Bisa jadi para balita Indonesia akan lebih mengenal hewan luar negeri dibanding hewan lokal.

Akhirnya, mungkin beberapa rumah produksi di Indonesia bisa mulai tertarik untuk membuat film dokumenter tentang spesies endemik Indonesia. Perlu diingat bahwa film mengenai gigitan komodo tidak kalah menyeramkan dibanding film penampakan hantu goyang mbok jamu.

(Tulisan ini dipermak dari note Facebook tertanggal June 4, 2010 at 4:57pm)