Di bawah apimu, yang telah laja tegak menantang zaman, aku berkisah
Tentang daya yang berpacu dalam rupa, wajah manusia
Tentang karsa manusia, tentang rasa yang teracuh
Penuh peluh penuh kisruh

Pada mereka yang berteriak menganjingi sesamanya, melototi sebangsanya. Tak cukup melempar amarah, mereka pongah melihat sesamanya biru lebam dihajar preman ibukota. Entah preman, entah jagoan, entah orang biasa yang berlagak pahlawan.

Di ujung sana, seorang tua penuh payah menawarkan julaannya beriringan dengan seorang tua menjajakan rupa kasihannya. Yang berusaha, yang bersandiwara. Edan! Kemudian, muka memelas menghancurkan dagangan seorang tua itu. Kuacuh, mereka acuh, semua acuh. Cuh!

Mereka yang berkoper, bertas dan bersepatu hitam. Seraya berparas rupawan. Berjalan penuh cepat. Tanpa lirikan, apalagi anggukan. Tampan dan cantik seolah kewajiban. Yang terpatri, tercetak di atas rupa mereka. Mereka kaya sekaligus miskin akan sapaan.

Semua berdiri, di bawah polusi yang berlarian, di antara polisi yang kecapean. Di antara tanah yang sudah tiada lapang. Saling menyapa walau hanya kadang. Seolah sepakat satu suara: aku tak kenal kau, kau angin, dan kau debu.

Di antara Cawang dan Pancoran, ada damai, ada lucu di sekitarnya. Mari tertawa, mari menyapa.