“Hai, apa kabar? Aku Nrimo, kamu siapa?”

“Biiip” Goyang-goyang sirip.

“Halo, ada orang di sana? Aku Nrimo. Kamu siapa?” Tanya Nrimo dengan antusias. Ikan yang ditanya masih diam seribu bahasa. Ia melanjutkan jalan-jalannya.

“Haloo” Lanjut Nrimo sambil mengibaskan cepat sirip ekornya ke atas ke bawah mengejar teman barunya.

“Haiii…” Nrimo menyapa dengan nada sedikit tidak sabar. Ikan itu berlalu. Nrimo berhenti. Ia didekati Fatriq, seekor bintang laut. “Ia pendiam, antisosial, dan sepertinya tubuhnya terlihat keras” Ucap Fatriq.

Nrimo terdiam. “Sepertinya begitu, dia sok jual mahal” Nrimo masih memperhatikan ikan baru itu berlenggak-lenggok. Terlihat kadang dia menabrak kaca, lalu membalikkan badannya kea rah lain. “Kamu ngapain Fatriq?”

“Update status Fishbook” kata Fatriq. “Bertemu warga baru yang menyebalkan” Lanjutnya. Iapun mengetik kalimat tersebut di fishphonenya.

 

[ada yang salah dengan cerita di atas]

Simus hanyalah “seekor” prototype robot ikan yang terbuat dari printer 3D. Panjangnya sekitar 9 cm. Prototype ikan yang biasanya berwarna putih terang ini memiliki biaya pembuatan hanya sekitar Rp300.000,00.

Simus dibuat oleh ilmuan di Fraunhofer Institute for Manufacturing Engineering and Automation di Stuttgart. Simus yang terbuat dari bahan poliamida ini “melihat” dengan menggunakan sensor infra merah. “Otak” Simus adalah ATMega8A-Microcontroller seharga sekitar Rp30.000,00. Otak dengan bahasa pemrograman C ini mensimulasikan cara berenang ikan dengan baik. Simus harus makan “listrik” dengan cara isi ulang baterai litium ion hanya selama 45 menit. Setelah itu Simus bisa “hidup” selama 45 menit. Bahan poliamide yang digunakan merupakan bahan yang tahan air, sehingga komponen di dalamnya terlindingi.

http://www.youtube.com/watch?v=XH6rLSsCtq8

Simus dibuat untuk mensimulasikan cara berenang ikan. Mungkin bagi sebagian orang hal ini adalah hal yang sepele. Kenapa dalam bidang edukasi digunakan hewan model, sedangkan hewan aslinya masih ada. Dengan uang sekitar 300 ribuan, dapat dibeli sekantung ikan-ikan dan seplastik ikan lele yang enak dibuat pecel. Masih bisa pula untuk beli lalap dan bahan-bahan sambelnya. Hal yang pasti adalah, ketika melihat Simus, para anak dan gadis muda akan berteriak. “Lucuuuu! Cute! Kawaii..!” Begitulah yang ada di pikiran saya. Silahkan dipikirkan sendiri dengan membayangkan model rangka manusia di lab biologi yang bisa tiba-tiba bergerak kalau tidak ada orang. Terlebih lagi jika diletakkan di samping jendela besar yang terbuka.

Pikiran masa depan saya berkhayal suatu saat akan ada kapal selam yang bergerak seperti ikan, tanpa terdeteksi sensor sonar, tapi dapat terdeteksi sensor gerak. Jika usia kapal selam sudah uzur, kapal selam bisa dimasak dengan menggunakan sambal pedas tambah kecap. Pastinya akan terasa enek. Mari kita Tanya ilmuan di Fraunhofer Institute tentang kegunaan Simus.

Pengembangan dari artikel Chip 12/2012.