asimo.honda.com

Masahiro Mori adalah seorang ahli robot dari Jepang yang dikenal dengan pekerjaannya mengenai respon emosi manusia pada sesuatu yang bukan manusia, sebagaimana pandangannya pada agama dan robot. Awalnya, Mori dikenal ketika mempublikasikan artikel Bukimi no Tani atau The Uncanny Valley (lembah kengerian) di jurnal Energy. Dia menyebutkan mengenai hipotesis jika robot yang semakin mirip manusia maka pada suatu saat ia akan tampak mengerikan. Selain itu, ia juga dikenal akan tulisannya mengenai implikasi metafisik dari robot dalam The Budha in the Robot: a Robot Engineer’s Thought on Science and Religion. Pada tahun 1988, ia mendirikan kompetisi robot tingkat nasional pertama di Jepang yang dikenal dengan Robocon. Mori kemudian dikenal sebagai Bapak Robocon dan juga kakek dari kebanyakan robot Jepang, termasuk Asimo.  Asimo merupakan humanoid robot dari Honda yang dibuat oleh Toru Takenaka, murid dari Mori.

The Uncanny Valley sendiri berasal dari kata dalam bahasa Jepang “shinwakan”, konsep ini pertama kali dideskripsikan dalam bahasa Inggris sebagai “familiarity”, “likableness,” “comfort level” dan “affinity”. Karl MacDorman, seorang peneliti robot di Indiana University, kemudian menjelaskan tentang “shinwakan” sebagai sebuah perasaan mengenai keberadaan dari “another human being”. Lebih lanjut, hal tersebut merupakan saat di mana terjadi kontak emosi antara seseorang dengan ‘seseorang yang lain’. Pada suatu titik, saat seseorang menyadari ‘seseorang yang lain’ itu bukanlah seseorang, perasaan emosi tersebut menjadi buruk.

Secara sederhana, The Uncanny Valley dapat dijelaskan sebagai ada sebuah perasaan dalam benda-benda lain berupa ketertarikan dan ketakutan. Ketika kita melihat sebuah objek, akan muncul perasaan tertarik atau jijik seketika. Seperti saat melihat boneka hewan yang lucu kemudian melihat boneka yang menakutkan dalam satu tempat. Hal ini dapat terjadi pada robot. Saat desain robot menjadi lebih mirip manusia, kebanyakan orang akan merasa takut. Pada beberapa saat, kita merasakan empati dan tertarik pada objek mirip manusia, tetapi dengan sedikit perubahan desain, tiba-tiba kita dapat merasa penuh ketakutan.

Hal ini dapat dibuktikan bagaimana perbandingan perasaan kita saat menonton film dengan karakter-karakter Disney, Optimus Prime robot Transformer, boneka Chucky, dan David di Prometheus. Kita akan merasa suka pada dua karakter pertama, karakter DIsney dan humanoid robot canggih. Kita akan merasa takut dan benci pada boneka Chucky serta ada perasaan yang aneh saat melihat David. Perasaan takut dan benci pada boneka Chucky dapat didasari pada tingkahnya yang mengerikan serta desain boneka yang mirip manusia sehingga kita merasa boneka lebih hidup dan mirip dengan kita. Namun, pada saat yang sama muncul ketidaknyamanan yang aneh. Perasaan yang aneh juga muncul saat melihat David, terutama saat adegan kepala David terpisah dari badannya.

http://disneykicksass.com/category/princesses/

http://www.wallpaperez.org/movie/Transformers-Optimus-Prime-theme-682.html

http://hoodvideotube.com/funny-pranks-chucky-doll-prank/

http://www.nextmovie.com/blog/answers-theories-prometheus-questions/

David merupakan contoh dari humanoid robot yang mirip atau lebih tepatnya dibuat serupa dengan manusia yang dapat menimbulkan kengerian atau perasaan yang aneh saat melihatnya. Walaupun aktor pemeran David sudah berusaha sebisa mungkin berakting seperti robot, namun ia tetap manusia yang punya nyawa dan aura kehidupan yang memancar darinya. Silahkan bandingkan saat kita melihat humanoid robot yang serupa dengan manusia yang ada di dunia nyata. Perasaan aneh akan muncul saat kita melihatnya. Ia seolah tidak bernyawa dan sekaligus mengingatkan kita pada orang yang mati.

Secara ilmiah, hal ini telah dibuktikan oleh MacDorman. Melalui eksperimennya dengan terror management theory, ia mencoba menguji reaksi manusia pada foto robot yang serupa dengan manusia. Hasil yang ia peroleh adalah foto robot tersebut menimbulkan perasaan yang tidak nyaman bagi relawan. Hal ini, bisa jadi terjadi karena hampir semua robot manusia di dalam foto terlihat seperti orang mati, sekaligus mengingatkan relawan akan kematiannya sendiri. Namun, hasil ini juga memiliki batasan, yaitu, reminding someone of their own demise does not, on its own, elicit the uncanny reponse people describe. Sebagai contoh, batu nisan mengingatkan manusia akan kematian, tetapi tidak menyebabkan kita memiliki perasaan yang sama.

http://www.dailyonigiri.com/2011/05/japans-latest-humanoid-robots-are-more-realistic-than-ever/

Tahap selanjutnya dari penelitian ini adalah bagaimana manusia melihat video robot mirip manusia. Video robot mirip manusia ini dikondisikan memiliki ekspresi wajah dalam berbagai situasi mulai dari tidak berbahaya sampai berbahaya. Ia menemukan bahwa manusia susah mengeluarkan emosi atau perasaanya atau bingung setelah melihat ekspresi dari robot tersebut. Kembali, ada perasaan tidak nyaman yang muncul akibat interaksi dengan ‘sesama manusia yang bukan manusia’ ini. Jika dibandingkan dengan saat melihat David di Prometheus, perasaan tidak nyaman ini tidak muncul 100% karena David diperankan seorang aktor, yang hidup, bukan robot humanoid murni.

Senada dengan hal ini, Kurt Gray dari University of Carolina dan Daniel Wegner dari Harvard University melakukan survey untuk mengetahui bagaimana sifat manusia jika ‘dilihat’ oleh mesin atau robot. Hasil penelitian tersebut memiliki kesimpulan bahwa manusia senang ada robot atau mesin melakukan sesuatu tapi bukan merasakan sesuatu.

encanny valley

Secara umum keadaan-keadaan ini disebut sebagai uncanny valley, bagian dari keanehan kondisi empati manusia. Manusia akan menjadi susah atau bingung dalam menentukan empatinya dan merasakan suatu keanehan yang berbeda. Kondisi ini telah terjadi saat manusia berinteraksi dengan robot mirip manusia. Secara umum, robot mirip manusia dan uncanny valley dapat menjadi berita buruk bagi Hollywood dan desainer robot. Tetapi hal ini menunjukkan bahwa ada sebagian perasaan empati yang hanya manusia dapat saling berbagi.

Sumber :

WikipediaKawaguchi Judit. Robocon founder Dr. Masahiro Mori, Japan Times.  10 Maret 2011; Too Close for Comfort. Joe Kloc. 12 January 2013. New Scientist 35-37

Lebih lanjut mengenai Uncanny Valley: by Spectrum IEEE, Wikipedia