Primata dikenal sebagai hewan yang cerdas. Baru-baru ini, monyet diketahui berhasil mengontrol lengan prostetik, lengan robot, dengan menggunakan pikirannya.  Beberapa elektroda sebelumnya ditanam pada otak. Elektroda ini mengenal pola khusus dari aktivitas elektrik di otak kala otak mulai berfikir. Pola ini kemudian diterjemahkan menjadi pergerakan lengan robot tersebut. Namun, saat ini percobaan tersebut baru dapat diaplikasikan pada satu lengan robot saja. Hal ini dikarenakan pola yang muncul jika kedua tangan digerakkan menjadi susah diterjemahkan. 

Miguel Nicolelis ilmuan di Duke University in Durham, North Carolina, beserta kolega kemudian merekam aktivitas listrik dari sekitar 500 neuron di area somatosensor dan motor cortex pada kedua sisi otak monyet. Kedua area otak ini bertanggung jawab atas pengaturan posisi tubuh dan pergerakan.

Saat itulah, mereka melatih monyet untuk menggerakkan tangan virtual sebagai representasi dari tangan asli. Video aktivitas tersebut dapat dilihat pada:

Tahap dari percobaan mereka adalah sebagai berikut:

  1. Mengajari monyet menggerakkan avatar (karakter virtual monyet) berupa tangan virtual dengan menggunakan stik. Selama ini komputer bekerja menganalisa aktivitas otak dan pergerakannya.
  2. Stik dilepas yang dilanjutkan dengan program memindai pola aktivitas otak monyet. Monyet dilatih untuk menggerakkan avatar sesuai apa yang diinginkan hanya dengan menggunakan otak. Pada tahap ini monyet sudah berhasil menggerakkan tangan virtual hanya dengan pikiran.
  3. Algoritma pintar di dalam sistem kemudian ‘dilatih’ untuk mengenal bagaimana pola pola otak saat ‘keinginan’ menggerakkan tangan itu ada. Mereka menggunakan monyet kedua dengan kedua tangan terikat dan diperlihatkan video pergerakan tangan virtual. Saat itu, neuron di bagian somatosensor dan motor cortex bereaksi sesuai dengan apa yang dilihat monyet.
  4. Algoritma sistem kemudian bekerja untuk mengenal pola aktivitas otak yang berkaitan dengan pergerakan tangan virtual. Kemudian hal ini membuktikan tangan virtual dapat digerakkan seketika monyet berfikir ingin menggerakkannya.

Apa manfaat dari penelitian ini? Penulis berfikir hasil penelitian ini suatu saat dapat menjadikan Robocop benar-benar ada. Pada dasarnya, Robocop merupakan robot yang dikendalikan oleh manusia. Mengingat bahwa Alex Murphi, polisi yang menjadi Robocop, mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tubuhnya tidak dapat berfungsi dengan baik yang kemudian dijadikan robot oleh kepolisian. Dengan tubuh yang cacat, bisa jadi pergerakan Robocop sepenuhnya dikendalikan oleh otak. Tentunya, sensor-sensor elektroda dan lain sebagainya telah diintegrasikan ke dalam otak Alex Murphi.

Bagaimana dengan pergerakan dari robot-robot dalam berbagai karakter fiksi?

Gundam masih digerakkan secara ‘manual’ oleh tangan dan voice recognition. Ada pula dengan tambahan co pilot, Haru.

 

Robot-robot dari Gurren Laggan dikendalikan secara ‘manual’ oleh tangan dan kekuatan ‘percaya diri dan harapan’. Robot yang lebih kecil mampumempiloti robot yang lebih besar.

Eve Robot dikendalikan secara manual dan semacam ‘pembenaman diri ke dalam cairan khusus’ yang seolah-olah menjadikan tubuh pilot sebagai otak Eve. Cairan khusus ini, imho, jadi semacam sel saraf yang menghubungkan pilot dengan Eve.

Zord dari Super Sentai atau Power Ranger digerakkan dengan ‘bergaya’, memasukkan semacam kunci, atau hanya menempelkan tangan pada bola kristal. Bola kristal ini bisa jadi merupakan mediator untuk menyalurkan rangsang otak ke dalam sistem robot.

Ah, Bagaimana dengan pengendalian robot petinju di Real Steel? Secara sederhana, robot dikendalikan berdasarkan ‘Hugh Jackman-motion-capture’ by atom. Tentunya, sistem yang cangih sudah dibenamkan pada Atom agar mampu menyelaraskan diri dengan gerakan Jackman. Namun, apakah mungkin Atom secanggih itu dalam mengolah data visual dan menggerakkan segala persendian robotnya?

Yang paling baru: Jaeger dikendalikan dengan sinkronisasi otak dua orang pilot yang mana pergerakan Jaeger ditentukan oleh aktivitas fisik kedua pilot tersebut. Mungkin, tubuh Jaeger yang sangat besar tidak mampu dikendalikan oleh hanya satu otak saja.

Semua robot yang dikendalikan manusia di sini, walaupun fiktif, masih sangat mungkin akan diproduksi atau benar-benar ada. Tentunya saat semua teknologi sudah sampai kesana atau sebelum ada planet yang menabrak bumi.

Diolah dari NewScientist. Science Translational Medicine, DOI:10.1126/scitranslmed.3006159. Sumber gambar silahkan klik langsung pada gambar. Hak cipta karakter robot berada pada rumah produksi atau pengarang aslinya.