oleh: Mafrikhul Muttaqin (Facebook@mafright)

Perubahan Iklim dan Indonesia

Perubahan iklim adalah berubahnya iklim yang diakibatkan langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia sehingga menyebabkan perubahan komposisi atmosfer secara global dan selain itu juga berupa perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan. Perubahan komposisi atmosfer ini erat kaitannya dengan emisi gas rumah kaca (GRK) dari permukaan bumi. Tingginya emisi GRK ini menyebabkan terjadinya pemanasan global yang mempengaruhi iklim dunia.

RAN-GRK, Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca, merupakan Peraturan Presiden yang mencerminkan sikap Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim dunia. RAN-GRK ini tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011. Fungsi RAN-GRK adalah sebagai dasar peraturan mengenai penurunan emisi GRK bagi lembaga pemerintahan terkait baik pusat maupun daerah.

Beberapa Istilah dalam Perpres no 61 Tahun 2011

Beberapa Istilah dalam Perpres no 61 Tahun 2011 (biofin.wordpress.com)

RAN-GRK ini terkait erat dengan kesepakatan Bali Action Plan padaThe Conferences of Parties (COPke-13 United Nations Frameworks Convention on Climate Change (UNFCCC), hasil COP-15 di Copenhagen, hasil COP-16 di Cancun, serta memenuhi komitmen Pemerintah Indonesia dalam pertemuan G-20 di Pittsburg. Komitmen tersebut adalah penurunan emisi gas rumah kaca Indonesia sebesar 26% dengan usaha sendiri dan dapat mencapai 41% jika mendapat bantuan internasional pada tahun 2020 dari kondisi tanpa adanya rencana aksi (bussines as usual/BAU).

Secara umum, RAN-GRK ini bermanfaat sebagai dasar program atau kegiatan yang akan menurunkan emisi GRK. Dalam RAN-GRK, bidang yang dicanangkan dapat mengalami penurunan emisi GRK adalah bidang kehutanan dan lahan gambut, pertanian, enerji dan transportasi, industri, pengelolaan limbah, dan berbagai kegiatan pendukung lain. Dalam bidang tersebut ditargetkan terjadi penurunan emisi GRK sebesar 26% pada tahun 2020.

Pelaksanaan RAN-GRK melibatkan pihak-pihak dari pemerintahan pusat dan daerah serta masyarakat dan pelaku usaha. Lembaga pemerintahan daerah ini menggunakan RAN-GRK beserta prioritas pembangunan daerah sebagai pedoman dalam Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK).

Kemen PU dalam RAN-GRK

Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) merupakan salah satu lembaga pemerintahan pusat yang ikut andil dalam RAN-GRK. Berdasarkan Perpres Nomor 61 Tahun 2011, Kemen PU bertanggung jawab dalam kegiatan inti sebagai mana tercantum pada gambar berikut.

Kegiatan Inti RAN-GRK Kemen PU (biofin.wordpress.com)

Kegiatan Inti RAN-GRK Kemen PU (biofin.wordpress.com)

Kemen PU  bertanggung jawab atas perbaikan dan pemeliharaan jaringan irigasi di Indonesia. Diharapkan pada tahun 2014 pelaksanaan perbaikan jaringan irigasi seluas 1.34 ha dan operasionalisasi serta pemeliharaan jaringan irigasi seluas 2.32 juta ha dapat tercapai. Cakupan wilayah kegiatan ini adalah NAD, Sumut, Sumbar, Jambi, Bengkulu, Babel, Sumsel, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, Yogyakarta, Jatim, Kalsel, Kaltim, Bali, NTT, NTB, Sulut Sulteng, Sultra, Sulsel, Maluku, dan Papua. Dengan adanya kegiatan tersebut ditargetkan terjadi penurunan emisi GRK sebanyak 0.16 juta ton CO2e.

Dalam bidang kehutanan dan lahan gambut, Kemen PU bertanggung jawab atas peningkatan, rehabilitasi, operasi, dan pemeliharaan jaringan reklamasi rawa (termasuk lahan bergambut). Kegiatan yang dilakukan adalah peningkatan jaringan reklamasi rawa beserta operasi dan pemeliharaannya. Ditargetkan terjadi penurunan emisi GRK sebanyak 5.23 juta ton CO2e.

Pembangunan / peningkatan dan preservasi jalan merupakan tanggung jawab Kemen PU dalam bidang Enerji dan Transportasi. Ditargetkan pada tahun 2014 terjadi peningkatan kapasitas jalan nasional sepanjang 19.370 km di seluruh provinsi. Selain itu,  telah terjadi penerapan preservasi jalan nasional sepanjang 168.999 km di seluruh provinsi. Hal ini diharapkan ikut menurunkan emisi GRK sebanyak 1.1 juta ton CO2e.

Pengelolaan limbah merupakan bagian dari bidang RAN-GRK. Dalam bidang ini, Kemen PU  bertanggung jawab atas pembangunan sarana prasarana air limbah dengan sistem off-site dan on-site serta pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), dan pengelolaan sampah terpadu Reduce, Reuse, dan Recycle (3R). Sebanyak masing-masing 2 juta ton CO2e dan 46.0 juta ton CO2e dapat turun pada 2020.

Selain kegiatan inti yang dilakukan Kemen PU, terdapat beberapa kegiatan pendukung berupa penelitian, pengumpulan data, pembuatan strategi, atau pembangunan fisik yang mendukung RAN-GRK. Kegiatan-kegiatan pendukung tersebut selengkapnya dapat dilihat pada gambar berikut.

Kegiatan Pendukung RAN-GRK Kemen PU (biofin.wordpress.com)

Kegiatan Pendukung RAN-GRK Kemen PU (biofin.wordpress.com)

Kegiatan-kegiatan Kemen PU dalam mensukseskan RAN-GRK tersebut telah dicanangkan dalam bentuk Rencana Aksi Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim (RAN MAPI). RAN MAPI Kemen PU memiliki beberapa sub bidang, yaitu, sumber daya air, jalan dan jembatan, keciptakaryaan, dan penataan ruang. Dalam tulisan selanjutnya akan dijabarkan mengenai RAN MAPI Kemen PU dalam bidang sumber daya air saja, di mana kegiatan ini dilakukan oleh bagian Puslitbang Sumber Daya Air.

Peran Kemen PU dalam Pengelolaan Air di Indonesia

Salah satu bagian dari kegiatan pendukung RAN-GRK yang dilakukan Kemen PU adalah mengenai bagaimana pengelolaan air dalam berbagai kawasan strategis. Pengelolaan air ini penting mengingat hampir semua kegiatan masyarakat berkaitan dengan air. Kegiatan pendukung yang diamanahkan oleh Perpres no 61 Tahun 2011 ini mencakup penelitian mengenai pengelolaan air daerah irigasi, emisi GRK di waduk, serta pemanfaatan tenaga gelombang dan arus laut sebagai pembangkit listrik. Sementara itu, Kemen PU juga diamanahkan dalam survey dan pengumpulan data hidrologi dan hidrogeologi pada lahan bergambut. Hal ini dapat dijadikan dasar untuk mengetahui sistem tata air yang baik pada daerah tersebut. Terakhir, Kemen PU  juga diwajibkan ikut serta dalam penyusunan tata ruang suatu kawasan beserta koleksi data-data pendukungnya.

Secara khusus, upaya mitigasi perubahan iklim RAN MAPI Kemen PU terdiri dari pengelolaan tata air pada lahan gambut; peningkatan daya dukung daerah aliran sungai (DAS) kritis, kawasan hulu sungai dan pada sumber air tercemar; pengembangan metode pengukuran dan pelaporan pelaksanaan mitigasi perubahan iklim; pengembangan teknologi ramah lingkungan. Sementara itu upaya adaptasi perubahan iklim RAN MAPI Kemen PU difokuskan kepada peningkatan tingkat pelayanan dan kinerja prasarana sumber daya air; pengembangan disaster risk management; peningkatan kesadaran dan peran serta masyarakat dalam penyelamatan air; peningkatan manajemen dan pengembangan prasarana sumber daya air  untuk pengendalian daya rusak air; peningkatan penyediaan dan akses terhadap data dan informasi terkait dampak perubahan iklim.

Kemen PU  telah melakukan beberapa kegiatan yang mampu mendukung kesuksesan RAN MAPI Kemen PU. Kegiatan tersebut dapat berupa hasil rekayasa teknologi atau pembangunan fasilitas pendukung. Dengan  hasil kegiatan atau rekayasa teknologi tersebut, diharapkan terjadi proses mitigasi dan adaptasi pada perubahan iklim.

Teknologi Irigasi

Balai Irigasi Kemen PU telah menghasilkan beberapa teknologi irigasi yang mendukung efisiensi penggunaan air irigasi, keakuratan perhitungan kebutuhan, air irigasi, sistem pemberian air, sarana dan prasarana irigasi, instrumentasi dan sebagainya. Balai irigasi mengembangkan teknologi irigasi pada lahan kering terutama dengan air curah dan irigasi mikro. Pintu air tahan korosi dari resin, block knockdown, dan lining saluran ferrocement merupakan bagian dari upaya peningkatan jaringan irigasi. Irigasi hemat air diterapkan dengan irigasi berselang dengan jaringan irigasi pipa dengan sumber air permukaan.

Kemen PU juga menerapkan irigasi berselang pola SRI (system of rice intensification) dan PTT (Pola Tanam Terpadu) serta IP‐400 (Indek Pertanaman 400%) sebagai bentuk rekayasa teknologi di bidang pertanian sawah. Salah satu cerita sukses SRI adalah kegiatan petani di beberapa kabupaten di Jawa Tengah. Berkaitan dengan penggunaan air di lahan persawahan, teknologi SRI dikenal sebagai teknologi budidaya padi macak-macak yang mengkonsumsi air lebih sedikit (menghemat sampai 33%) dibandingkan budidaya padi konvensional. Hal ini jelas akan mengurangi kebutuhan air dari sistem irigasi secara keseluruhan. Keuntungan lainnya adalah terjadi peningkatan udara yang masuk ke dalam rongga tanah sehingga menurunkan emisi GRK metan. Metan yang dihasilkan bakteri metanogen ini direduksi oleh bakteri metanotrof pada kondisi aerob. Namun, emisi GRK N2O diketahui akan lebih besar dibandingkan lahan persawahan yang selalu tergenang (Yang et al. 2011).

Ilustrasi I Pengelolaan Sumber Daya Air Kemen PU

Ilustrasi I Pengelolaan Sumber Daya Air Kemen PU

Emisi GRK diketahui sejumlah satu per tiganya berasal dari bidang pertanian dalam arti luas. Pertanian dalam arti luas ini mencakup produksi pangan dari pertanian, kehutanan, atau peternakan, dan lain sebagainya serta pengolahan yang dilakukan. Selain itu, teknik budidaya juga berpengaruh dalam produksi emisi GRK dari lahan pertanian. Di Indonesia, pertanian disebut sebagai penyumbang emisi GRK terbesar setelah alih lahan dan kehutanan, enerji, kebakaran lahan gambut, dan limbah. Sementara itu, walaupun teknologi irigasi yang telah dikembangkan Kemen PU berkaitan erat dengan pengelolaan air, pengelolaan air juga diketahui sebagai salah satu upaya mitigasi emisi GRK dari lahan pertanian. Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa Kemen PU memegang peranan penting dalam upaya pengendalian GRK dari lahan pertanian, terutama dari sisi pertanian dengan berbagai komoditas tanamannya.

Pengelolaan Kawasan Pasang Surut dan Lahan Gambut

Hunian di kawasan pasang surut yang direkomendasikan oleh Kemen PU adalah berupa rumah terapung. Teknologi ini memanfaatkan sistem rakit berupa drum plastik untuk menopang bangunan rumah. Pada kawasan dengan muka air tinggi, Kemen PU menawarkan konsep teknologi sanitasi yang sesuai. Kawasan ini diharapkan mampu mengadopsi sistem pengoloahan limbah rumah tangga dengan menggunakan disinfektan dan media karbon. Air buangan rumah tangga dapat langsung disalurkan ke drainase umum sehingga tidak memerlukan daerah resapan dan ramah lingkungan. Dalam hal pengelolaan sampah, Kemen PU telah menawarkan teknologi berupa tempat pembuangan akhir (TPA) sampah yang sesuai dengan kawasan pasang surut.

Di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatra, Kemen PU telah menawarkan teknologi Instalasi Pengolahan Air Gambut untuk Penyediaan Air Bersih (Teknologi IPA Gambut). Teknologi IPA Gambut merupakan teknologi di mana air gambut dapat diolah menjadi air untuk keperluan rumah tangga dan air minum. Namun, kualitas air yang diperoleh masih perlu ditingkatkan lagi melalui berbagai penelitian lanjutan. Keunggulan dari teknologi ini dijelaskan dalam beberapa poin berikut.

  • Proses pengolahan air menggunakan bahan kimia umum dikenal oleh masyarakat (tawas dan kapur)
  • Dapat dikembangkan dalam skala rumah tangga sampai skala PDAM ibukota kecamatan/kota besar
  • Komponen ‐ komponen instalasi pengolahan air dapat dibuat secara lokal dengan modifikasi kriteria desain pada unit koagulasi, flokuasi dan sedimentasi serta dapat digabungkan dengan panel surya sebagai energi

Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah pada kawasan pasang surut berbeda dengan TPA pada kawasan lain. Perbedaan ini disebabkan karena adanya perbedaan karakterisitik tanah, sampah yang dihasilkan, dan kondisi air kawasan. Model TPA sampah pasang surut terdiri dari dua komponen utama, yaitu, tanggul dan kolam. Selain sebagai penahan, tanggul juga berperan sebagai jalan operasi. Kolam terdiri dari berbagai macam saluran, yaitu, kolam anaerob, kolam fakultatif, kolam maturasi, pipa berlubang untuk meresapkan air ke dalam tanah, tanaman rumput gajah untuk biofilter, sel timbunan sampah, serta pipa pengumpul leachate.

Ilustrasi II Pengelolaan Sumber Daya Air Kemen PU

Ilustrasi II Pengelolaan Sumber Daya Air Kemen PU

Lahan gambut dan daerah pasang surut menjadi kawasan yang potensial dalam produksi emisi GRK. Pemodelan lahan gambut diketahui sebagai salah satu kunci penting dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Pemodelan ini dapat dilanjutkan dengan upaya tertentu untuk mewujudkan mitigasi dan adaptasi tersebut. Kegiatan yang telah dilakukan Kemen PU tersebut salah satunya adalah sebagai tindakan adaptasi perubahan iklim pada kawasan pasang surut.

Pembangunan Waduk

Berbagai waduk yang dibangun oleh Kemen PU tersebar di beberapa tempat di Indonesia. Waduk tersebut digunakan sebagai sumber penampungan air untuk irigasi, perlindungan dari bahaya banjir atau sedimen lahar dingin, sumber air minum, rekreasi, budidaya perairan darat, dan pembangkit listrik. Berbagai penelitian juga telah dilakukan Kemen PU untuk mengoptimalkan pembangunan waduk dan fungsinya. Salah satu hasil penelitian Kemen PU adalah Panduan Rencana Pembangunan Waduk dan teknologi untuk pengelolaan sedimen waduk.

Waduk Jatiluhur, foto:karawanginfo.com

Tantangan ke depan yang dihadapi oleh Kemen PU adalah bagaimana menurunkan emisi GRK yang berasal dari perairan waduk dan aktivitas di sekitarnya. Hal ini berkaitan dengan potensi waduk sebagai penghasil emisi GRK. Sementara itu, penelitian mengenai operasional waduk juga penting dalam rangka adaptasi dengan perubahan iklim.

Enerji dari Air

Kemen PU telah melihat adanya potensi sumber daya air di Indonesia yang dapat digunakan dalam berbagai bidang. Sayangnya, potensi yang ada baru dimanfaatkan sekitar 10% untuk pembangkit listrik. Kemen PU berperan dalam pembangunan waduk atau bendungan yang salah satunya dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Beberapa waduk atau bendungan yang berperan sebagai pembangkit listrik adalah Saguling dan Cirata, WadaslintangJatigede (dalam proses pembangunan), dan lain sebagainya. Selain itu, optimalisasi potensi air di daerah juga dapat ditingkatkan dengan pembuatan mikro hidro, suatu bentuk pembangkit listrik sederhana.

Berkaitan dengan pembangunan jembatan Selat Sunda (JSS), Kemen PU telah melihat potensi energi alternatif dari laut, hybrid power integrationpembangkit listrik tenaga gelombang Bouy Type, serta pemanfaatan energi surya. Hal ini disampaikan oleh Tim dari ITBHybrid Power Integration ini akan menghasilkan energi listrik dari angin dan surya. Sementara itu,  tenaga Gelombang Bouy Type menghasilkan listrik dari gelombang air laut. Selain ituada pula potensi penggunaan teknologi osmosis, dan ocean thermal energy conversion yang dapat diaplikasikan bersamaan dengan penggunaan jembatan Selat Sunda. Tentunya, hal positif ini dapat dikembangkan jika pembangunan JSS dapat dilaksanakan.

Selain potensi enerji terbarukan dari air yang dapat dimanfaatkan Kemen PU, terdapat pula ancaman yang berkaitan dengan air. Ancaman tersebut adalah ketersediaan jumlah air sebagai penghasil enerji akibat pengaruh perubahan iklim. Ancaman tersebut dapat berubah menjadi tantangan jika Kemen PU mampu mengelola ketersediaan air dengan baik dan menghasilkan teknologi yang sesuai dengan kondisi di Indonesia.

Konservasi Air

Konservasi air merupakan kegiatan dalam rangka menyimpan (menyerap) air dari berbagai sumber sehingga dapat digunakan oleh rumah tangga atau masyarakat dalam jangka waktu tertentu. Kemen PU telah mensosialisasikan pembuatan berbagai teknologi serapan air yang dapat dimanfaatkan masyarakat, antar lain, bangunan penampung air hujan,  teknologi penyimpanan air pada akifer yang sesuai, sumur resapan dan Sarana Resapan Air Sangat Sederhana (SaRASS) yang murah dan sederhana.

Sumur Resapan cocok digunakan pada kawasan dengan lahan peresap alami yang sedikit, air permukaan di musim hujan melimpah, dan atau sumur-sumur penduduk yang mengalami kekeringan di musim kemarau.Sementara itu, SaRASS memiliki fungsi yang sama dengan sumur resapan, hanya saja dengan cara pembuatan yang mudah dan cepat serta dapat dikerjakan secara individu atau kolektif dengan biaya relatif murah.

Konservasi air merupakan bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim. Dengan mudahnya akses air, maka akan terjadi penurunan biaya dan enerji yang diperlukan untuk memperoleh air. Ilustrasi sederhana dari hal ini adalah sebagai berikut. Pada daerah yang kurang memiliki ketersediaan air, air diperoleh dari pengiriman dengan menggunakan mobil tanki air. Masyarakat diminta membayar untuk sejumlah air yang diperoleh. Sementara itu, mobil tanki air menggunakan bahan bakar minyak untuk bergerak. Sementara itu, pada daerah yang kurang memiliki ketersediaan air lainya, telah dibangun sejumlah sumur resapan atau sumur akifer oleh Kemen PU. Kedua sumur tersebut dilengkapi pompa dan tanki penyimpan air. Masyarakat tinggal datang mengambil air untuk kebutuhan mereka tanpa membayar lagi. Dari ilustrasi di atas, peran Kemen PU dalam konservasi air juga menjadi bagian aktivitas Kemen PU mensukseskan RAN-GRK.

Pengolahan Limbah

Kemen PU juga menyediakan teknologi pengolahan limbah. Pembuatan instalasi pengolahan limbah ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Beberapa teknologi yang telah dihasilkan berupa instalasi pengolahanan air limbah sederhana yang digunakan dalam bidang peternakan serta instalasi pada daerah gambut.

Ilustrasi III Pengelolaan Sumber Daya Air Kemen PU

Ilustrasi III Pengelolaan Sumber Daya Air Kemen PU

Pengelolaan limbah juga diketahui merupakan bagian dari upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Pengelolaan limbah ini dikenal sebagai pengelolaan daur material dari sesuatu. Pada akhirnya, jika telah terjadi daur tersebut, material yang terbentuk dapat dimanfaatkan kembali oleh manusia atau diolah lagi oleh alam. Pengelolaan limbah ini telah menjadi perhatian masyarakat eropa dan dunia.

Kegiatan Lain

Berbagai kegiatan Kemen PU telah dilakukan dalam upaya penerapan prinsip penggunaan air di berbagai daerah di Indonsia. Hal tersebut salah satunya terdokumentasikan dalam Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 6/PRT/M/2011. Dalam lampiran tersebut, Kemen PU telah melakukan kegiatan sebagai mana berikut.

Pembangunan fisik dengan berbagai prasarana untuk pengelolaan sumber daya air memang sudah dilakukan oleh Kemen PU. Namun, Sosialisasi dan kampanye penggunaan sumber daya air juga penting dilakukan. Hal ini mengingat adanya fasilitas tidak berarti masyarakat bisa menggunakannnya dengan baik atau malah tidak mengerti arti pembangunan fasilitas tersebut. Biasanya, sosialisasi dilakukan oleh Pusat Komunikasi Publik Kementerian PU (Facebook), seperti yang sudah dilakukan pada Oktober lalu. Sosialisasi dan kampanye dapat dilakukan misalnya dengan workshop, laman web, sosialisasi  bagaimana penggunaan air yang bijak pada masyarakat atau pembelajaran modul air pada masyarakat usia sekolah.

Secara khusus, informasi mengenai hasil penelitian dan pengembangan Kemen PU dalam bidang sumber daya air dapat dilihat pada laman Puslitbang Sumber Daya Air. Dalam laman tersebut disediakan informasi mengenai teknologi yang dikembangkan Kemen PU seperti bagaimana menyimpan air, deteksi bencana, pengelolaan jaringan irigasi, pengolahan air limbah, dan lain sebagainya.

Penutup

Selain berbagai kegiatan dan teknologi yang telah dihasilkan Kemen PU, banyak pedoman teknis yang telah dihasilkan yang digunakan sebagai Standar Nasional Indonesia (SNI). Selain dapat diakses melalui laman Kemen PULitbang atau laman terkait lainnya, informasi produk-produk hasil Litbang Kemen PU juga dapat disaksikan langsung oleh masyarakat dalam bentuk pameran terbuka seperti pada tahun 2012 dan 2013.

Kegiatan-kegiatan, pembangunan infrasutruktur, dan rekayasa teknologi dari Kemen PU  tersebut baik langsung maupun tidak langsung sejatinya telah mendukung upaya pensuksesan RAN MAPI Kemen PU. Selanjutnya, bersama lembaga lain dan juga masyarakat, hal ini akan mendukung terlaksananya RAN-GRK. Dengan kata lain, andil Kemen PU pada upaya penurunan emisi GRK nasional sudah dilakukan dan masih berjalan sampai saat ini.

 

Tulisan ini menggunakan referensi dari beberapa produk perundangan Republik Indonesia, kesepakatan internasional, hasil penelitian dan pengembangan Kemen PU, dan sumber lain yang telah tercantum dalam tubuh tulisan dalam bentuk tautan langsung. Tulisan ini dibuat dalam rangka Sayembara Penulisan Blog 2013 yang diselenggarakan oleh Kemen PU.